, ,

Harga Sarang Walet di Tana Tidung Turun, Hilirisasi Jadi Harapan Baru Petani

by -712 Views
cek disini

News Tideng Pale Harga sarang burung walet di Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, mengalami penurunan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Penurunan ini diduga kuat dipengaruhi oleh melemahnya permintaan ekspor akibat dinamika perdagangan global, khususnya ke pasar utama seperti Tiongkok.

Harga Sarang Burung Walet Anjlok, Ini Dampaknya terhadap Pendapatan Daerah  - Radar Sampit
Harga Sarang Walet di Tana Tidung Turun, Hilirisasi Jadi Harapan Baru Petani

Menurunnya harga membuat sejumlah petani dan pelaku usaha walet di daerah tersebut harus menekan biaya produksi agar tetap bertahan. Menanggapi hal ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tana Tidung menegaskan pentingnya hilirisasi dan diversifikasi produk untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah tersebut.

Baca Juga : Ciptakan Ekonomi Kreatif, Menbud Gagas Gerakan ‘Indonesia Waves’

“Kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada ekspor bahan mentah. Hilirisasi menjadi jalan agar petani dan pelaku usaha walet tetap memperoleh keuntungan meski harga global fluktuatif,” ujar Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Tana Tidung, Suparno, Jumat (8/11/2025).


Harga Turun hingga 30 Persen, Petani Tertekan

Menurut data yang dihimpun dinas terkait, harga sarang burung walet kualitas premium kini turun hingga 30 persen dibandingkan awal tahun. Dari sebelumnya mencapai Rp18 juta per kilogram, kini berada di kisaran Rp12–13 juta.

Seorang petani walet asal Kecamatan Sesayap, Rasman, mengaku kondisi ini membuat sebagian peternak kecil kesulitan menutupi biaya operasional rumah walet.

“Kami masih berharap ada stabilisasi harga atau program pendampingan dari pemerintah. Sekarang hasilnya kadang tidak sebanding dengan biaya listrik dan perawatan,” ungkap Rasman.


Pemkab Dorong Produk Olahan dan Standarisasi Mutu

Pemkab Tana Tidung kini tengah menyusun program penguatan industri hilir berbasis komoditas lokal, termasuk sarang burung walet. Melalui kerja sama dengan pelaku usaha dan lembaga riset, pemerintah berupaya mengembangkan produk olahan seperti minuman kesehatan dan kosmetik berbasis walet, yang bernilai jual lebih tinggi.

“Kami ingin Tana Tidung bukan hanya penghasil bahan mentah, tapi juga produsen produk turunan bernilai ekspor. Itu arah kebijakan hilirisasi kita ke depan,” tambah Suparno.

Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan standarisasi mutu dan sertifikasi produk agar komoditas lokal mampu bersaing di pasar internasional.


Harapan Petani dan Arah Kebijakan Daerah

Meski kondisi pasar masih lesu, petani berharap adanya intervensi kebijakan berupa pelatihan, bantuan alat pengolahan, dan promosi produk lokal. Pemerintah daerah pun menegaskan akan menjadikan komoditas walet sebagai bagian dari prioritas ekonomi kreatif berbasis sumber daya alam daerah.

tokopedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.